Kamis, 16 Agustus 2018

3 Alasan Kenapa Kamu Harus Mempertahankan IPK

Ilustrasi Potret Mahasiswa Baru
IPK atau Indeks Prestasi Kumulatif seringkali dianggap penting dan tidak penting. Bagi mereka para aktivis organisai seringakali banyak yang meremehkan soal IPK, meskipun tak jarang juga aktivis mahasiswa yang IPKnya juga tinggi. Brikut 3 alasan kenapa kamu harus mempertahankan IPKmu : 

1. Mempermudah mendapat beasiswa
Tidak ada satu mahasiswa pun yang tidak menginginkan mendapat beasiswa. Bayangan mendapat tambahan uang saku dan uang kuliah membuat mereka rela antre memperebutkannya.

Namun, keuntungan bagi para pemegang IPK tinggi, mereka biasanya tidak perlu bersusah payah mengantre karena dapat dengan mudah membabat habis seluruh saingannya hanya dengan selembar transkrip yang memukau. Dengan kata lain, peluang untuk mendapatkan beasiswa akan menjadi sangat terbuka bagi pemegang IPK dewa tersebut.

2. Bukti bahwa Anda bekerja keras selama kuliah
Tidak dapat dipungkiri bahwa untuk mendapatkan IPK tinggi dibutuhkan kerja keras dan stamina yang prima. Anda harus rajin mengikuti perkuliahan, aktif di kelas, mengumpulkan tugas tepat waktu, dan membaca berbagai referensi perkuliahan lebih banyak. Semua perjuangan tersebut hanya akan dilakukan oleh para pekerja keras dan memiliki visi dalam hidupnya. Dengan demikian, jika Anda mampu menjaga IPK tetap unggul, maka dapat dipastikan bahwa Anda memang sungguh-sungguh dan bekerja keras ketika kuliah.

3. Modal menjanjikan untuk masuk dunia kerja
Tidak jarang instansi saat ini menilai pelamar pertama kali dari perolehan IPK-nya. Ketika mereka melihat bahwa Anda mampu memperoleh IPK tinggi tersebut, maka merka akan berkeyakinan bahwa Anda memiliki kompetensi dan pengetahuan mumpuni untuk dapat bekerja dengan baik. Apabila sudah demikian, mereka tidak akan ragu-ragu menerima Anda untuk bergabung dengan mereka.

Ikam Lamtim Lakukan Aksi Galang Dana Di Festival Lampung Timur

Dok. Penggalangan Dana Untuk Lombok

Ikatan Mahasiswa Lampung Timur atau yang sering disebut Ikam Lamtim melakukan aksi Galang Dana di Festival Band Lampung Timur pada Selasa (14/08) pagi. Tepatnya kegiatan tersebut dilaksanakan di Lapangan Merdeka Purbolinggo - Lampung Timur.

Aksi tersebut merupakan bentuk ekspresi kepedulian pemuda dan mahasiswa Lampung Timur menyusul bencana gempa yang terjadi di Lombok - Nusa Tenggara Barat. Ikam Lamtim bersama dengan Komunitas Blus dan Potlot Coffe bersama-sama mengajak masyarakat untuk peduli dan ikut membantu meringankan beban masyarakat Lombok.

Dedi Ikhwanudin selaku Ketua Umum Ikam Lamtim menuturkan, "Kalau bukan dimulai dari kita para pemuda yang peduli dan bergerak, lantas apa fungsinya kita hadir sebagai pemuda". 

"Semoga lelah letih teman-teman semua dapat meringankan beban saudara kita yang ada disana, dan Allah nilai sebagai amal ibadah untuk teman-teman semua" tambahnya seusai aksi galang dana.

Nico Hanafi selaku Ketua Departemen Sosmas Ikam Lamtim menambahkan, " untuk rekan-rekan dan masyarakat  yang ingin  berdonasi dapat disalurkan melalui rekening BNI : 046-957-2453 dan BTN : 003-440-161-004-5498 (a.n. DESIANA PUTRI). Kami juga melayani antar jemput dinasi melalui nomer berikut 081928311175 a.n. Nico hanafi.

Senin, 13 November 2017

Beras Analog : Inovasi Beras Alternatif

Beras Analog : Inovasi Beras Alternatif

Contoh Beras Analog dan Beras Padi
Beras analog atau beras tiruan adalah beras yang dibuat dari bahan non padi dengan kandungan karbohidrat mendekati atau melebihi beras yang terbuat dari tepung lokal atau tepung beras (Samad 2003; Deptan 2011). Beras analog adalah beras tiruan yang hanya terbuat dari tepung lokal non-beras (Budijanto et al. 2011). Beras analog adalah salah satu jenis beras yang berbahan baku seperti singkong, tepung sagu, jagung, umbi-umbian, dan beberapa sumber karbohidrat lainnya. Beras analog ini merupakan salah satu program dari Kementerian Pertanian untuk mengurangi ketergantungan konsumsi masyarakat terhadap beras padi. Beras analog dibuat dari bahan sumber karbolokal non padi seperti umbi-umbian (ubi kayu, ubi jalar, talas, gembil dan umbi lainnya), serealia (jagung, sorgum, hotong), tanaman pohon (sagu), tanaman buah (sukun, pisang) dan dari sumber karbohidrat lainnya. Sedangkan untuk meningkatkan kandungan protein bisa menggunakan pangan sumber protein seperti kacang-kacangan.

Aspek Pentingnya Beras Analog 
Beras analog perlu untuk dikembangkan terutama dalam hal inovasi. Aspek-aspek berikut menjadi alasan pentingnya beras analog :
  • Beras analog merupakan salah satu produk diversifikasi pangan. Diversifikasi pangan adalah upaya penganekaragaman pola konsumsi pangan masyarakat dalam  rangka meningkatkan mutu gizi makanan yang dikonsumsi yang pada akhirnya akan meningkatkan status gizi penduduk (Almatsier, 2001).
  • Ketergantungan terhadap beras menjadi masalah disebabkan oleh tingkat konsumsi beras yang sangat tinggi namun tidak diimbangi dengan peningkatan produksi padi. Tingginya tingkat konsumsi di Indonesia selain disebabkan oleh jumlah penduduk yang terus meningkat juga disebabkan oleh pola konsumsi masyarakat yang sulit berubah dari beras ke bahan pangan lain. Hal tersebut disebabkan oleh faktor sosial antara lain masyarakat menganggap mengonsumsi sumber beras termasuk dari status sosial dan hanya akan mengonsumsi sumber karbohidrat lain (gaplek atau tiwul) jika jumlahnya terbatas atau tidak mampu membeli beras (Tarigan, 2003).
  • Indonesia kaya akan produk sumber karbohidrat lain seperti jagung, singkong, sorgum, sagu, dan umbi-umbian lainnya. Bahan-bahan tersebut sudah digunakan sebagai bahan pangan, namun masih belum bisa menggantikan beras sebagai makanan pokok. Biasanya bahan tersebut lebih sering diolah menjadi penganan, kue atau jajanan pasar. Kendala dalam mengonsumsi bahan tersebut sebagai bahan makanan pokok disebabkan kurangnya pengetahuan gizi masyarakat, kurangnya kesiapan masyarakat secara psikologis  untuk mengganti makanan pokok dan kurangya ketersediaan produk pangan yang memenuhi selera masyarakat. Masyarakat merasa bosan dengan cara konsumsi umbi-umbian yang belum bervariasi sehingga lebih memilih produk berbasis gandum sebagai pengganti beras (Hidayah, 2011). Oleh karena itu, diperlukan teknologi untuk mengolah bahan-bahan tersebut menjadi bentuk yang menyerupai beras yang dapat diolah dan dikonsumsi seperti nasi.
 
Beras Analog Berbahan Dasar Singkong
Kelayakan Konsumsi Beras Analog Sehari-hari

Beras analog ini mampu menggantikan itu. sumber karbohidrat maupun gizi yang terkandung di dalam beras analog sama dengan beras padi sehingga layak dikonsumsi. Dengan beras analog ini, masyarakat diharapkan mampu memberi kontribusi dalam mengatasi ketahanan pangan secara berkelanjutan. Beras analog dapat juga dimanfaatkan untuk program fortifikasi pangan dalam upaya untuk mengatasi masalah malnutrisi dengan menambahkan beberapa mikro­ nutrient penting ke dalam beras analog seperti vitamin A dan E, zat besi, niacin dan sebagainya. Beras analog yang juga dapat dikembangkan  sebagai beras fungsional untuk kebutuhan khusus seperti untuk penderita diabetes, untuk penderita hypercholes­ rolemia atau kebutuhan diet lainnya (Feriyanto, 2015)

Contoh Pengembangan Beras Analog

Saat ini ada beberapa industri rumah tangga yang memproduksi beras analog berbahan dasar singkong di Lampung, salah satunya adalah beras analog “Siger Unila” . Beras analog “Siger Unila” yang dihasilkan umumnya berbentuk butiran/granule, ada yang berwarna putih dan agak kekuningan, dan beraroma khas singkong. Salah satu industri yang memproduksi beras analog “Siger Unila” adalah yang berlokasi di Way Kandis Bandar Lampung . Beras analog “Siger Unila” yang dihasilkan berbentuk bulir yang menyerupai beras padi dan berwarna putih. Beras analog “Siger Unila” memiliki tekstur kepulenan yang hampir menyerupai nasi , bahkan lebih kenyal dari nasi. Rasanya tidak jauh berbeda dengan nasi namun karena dibuat dari singkong maka beras analog ada rasa khas singkong. Ukuran butiran beras analog dibuat menyerupai ukuran beras pada umumnya  (Triastuti, 2017).



Selain itu, contoh inovasi beras analog dari hasil penelitian Budi dkk (2014) yang dibuat dari tepung jagung 40 persen, tepung sorgum 30 persen dan pati  30 persen memiliki komposisi kimia Proksimat seperti pada Tabel 1.
 
Tabel 1. Komposisi Kimia Beras Analog dan Beras Padi


Sumber: Widara, 2012 dan Rohman, 1997


Kadar air, mineral dan protein beras analog tersebut lebih rendah dibanding beras padi. Sedangkan kadar  lemak dan protein beras analog lebih tinggi. Namun secara umum komposisi kimia beras  analog tersebut sudah mendekati komposisi  kimia beras padi. Dengan komposisi tersebut  beras analog mempunyai nilai gizi yang cukup.  Pada umumnya beras atau nasi dikonsumsi bersamaan dengan bahan pangan lain seperti  lauk pauk yang mempunyai kandungan protein  yang tinggi sehingga nilai asupan protein beras  analog bisa ditingkatkan. Namun bila diinginkan  adanya tambahan bahan  mikronutrien lain  seperti vitamin B, vitamin A, zat besi dan  sebagainya maka dapat dilakukan fortifikasi  pada saat formulasi. Mishra, dkk., (2012)  melaporkan beberapa fortifikasi beras analog yang dilakukan oleh beberapa peneliti seperti fortifikasi beras analog dengan besi, seng dan vitamin (Li, dkk., 2008), besi, seng,  thiamin dan  asam  folat (Bett-Garber, dkk., 2004), dan vitamin A (Murphy, dkk., 1992).



DAFTAR PUSTAKA


[DEPTAN] Departemen Pertanian Republik Indonesia. 2011. Pedoman Umum Gerakan Penganekaragaman Konsumsi Pangan 2011. Badan Ketahanan Pangan Deptan. Jakarta.

Almatsier. 2001. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Bett-Garber, K.L., Champagne, E.T., Ingram, D.A. and Grimm, C.C. 2004. Impact of Iron Source dan Concentration on Rice Flavor Using a Simulated Rice Kernel Micronutrient Delivery System. Cereal Chemistry. 81(3): 384-388

Budi, F.S., Hariyadi, P., Budijanto, S., dan Syah, D. 2015. Teknologi Proses Ekstrusi Untuk Membuat Beras Analog. Departemen llmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian, IPB. Bogor.

Budijanto  S,  dkk.  2011.  Pengembang  Rantai  Nilai  Serelalia  Lokal  (Indegenous  Sereal)  Untuk Memperkokoh   Ketahanan   Pangan   Nasional.   [Laporan   Program   Riset   Strategi]. Fakultas Teknologi Pertanian. Institut Peranian Bogor. Bogor.

Feriyanto, H. 2015. Beras Analog Sebagai Pangan Alternatif. BBPP Ketindan

Hidayah. 2011. Rencana Pengembangan Tanaman Ubi Jalar di Kecamatan Matesih Kabupaten Karanganyar. Skripsi. Fakultas Geografi UMS. Surakarta.

Li, Y., Diosady, L. dan Jankowski, S. 2008. Effect of Iron Compounds on The Storage Stability of Multiple Fortified Ultra Rice@. International  Journal of Food Science and Technology.43. 423-429.

Mishra, A., Mishra, H. N., Rao, P. S. 2012. Preparation  of Rice Analogues Using Extrusion Technology. International Journal of Food Science and Technology.

Murphy, P.A., Smith, B., Hauck, C. dan O’Connor, K. 1992. Stabilization of Vitamin A in a Synthetic   Rice Premix.  Journal of Food Science.  57 (2). 437—439.

Rohman, A.M. 1997. Evaluasi Sifat Fisika-Kimia Pati  Beras Ketan Hitam, Beras Ketan Putih, Beras Cianjur dan Beras IR 36. Skripsi di Fakultas  Teknologi Pertanian IPB Bogor.

Samad, MY. 2003. Pembuatan Beras Tiruan (Artificial Rice) dengan Bahan Baku  Ubi Kayu dan Sagu. J Saint dan Teknologi BPPT VII.IB.02. Skripsi di Fakultas Teknologi Pertanian IPB Bogor.
Tarigan. (2003). Faktor-Faktor Yang Berhubungan dengan Status Gizi Anak Umur 3-36 Bulan Sebelum Dan Saat Krisis Ekonomi Di Jawa Tengah. Buletin Penelitian Kesehatan Depkes RI. Vol. 31. No.1. hal. 1-12

Triastuti, I. 2017. Analisis Kelayakan Usaha dan Preferensi Konsumen  Beras Analog di Kelurahan  Way Kandis Kecamatan Tanjung Seneng Bandar Lampung. Tesis. Magister Teknologi  Industri Pertanian  Fakultas Pertanian Universitas Lampung. Bandar Lampung.

Widara, S.S. 2012. Formulasi dan Karakterisasi Gizi Beras Analog Terbuat dari Campuran Tepung Sorgum, Mocaf, Jagung, Maizena dan Sagu Aren